Spidol Biru

Aku duduk di bangku semen di ujung lapangan sambil tetap memegang spidol berwarna biru. Menunggu teman-temanku menghampiri dan memintaku menandatangani baju seragam putih mereka yang biasanya dikenakan dengan rapi setiap hari Senin. Bajuku sendiri sudah jauh dari kata bersih, penuh dengan tanda tangan, dan cat semprot dengan tulisan nama sekolah dan tahun kelulusanku. Namun tetap saja, aku menyisakan satu spot kecil di paling bawah bagian depan bajuku.
Bahkan hanya dengan melihat teman-temanku setelah tiga tahun bersama, aku merasa tenang. Mataku terus memindai lapangan, menunggu seseorang, atau bahkan bisa kusebut dengan sahabatku datang. Aku sangat paham, biarpun jarum jam Danar bergerak sama dengan irama jam tanganku, tetap saja pria itu tidak pernah datang tepat waktu.
Tidak ketika kami masih belajar di kelas. Walaupun rumahnya jauh lebih dekat daripada jarak rumahku dengan sekolah, tetap saja pria itu datang ke sekolah paling cepat sepuluh menit setelah bel masuk berbunyi. Menyebabkan ia, dan teman setianya Ramon, harus rela berdiri mendengar ocehan guru yang bertugas atau sesekali mendapat surat panggilan orang tua.
Tidak ketika kelas kami mengadakan perpisahan ketika kelas dua. Teman-temanku sudah kehabisan kesabaran sementara aku harus terus menerus menelpon Danar tanpa ampun. Yang benar saja, ketika seharusnya kita pergi pukul tujuh pagi, bahkan ketika pukul tujuh lewat lima ia baru bangun dari kasurnya.
Jadi aku sudah terbiasa dengan kelakuan pria yang satu itu. Kalau saja hal seperti itu ia telat, apalagi jika dibandingkan dengan acara kecil seperti ini? Memang sih, coret-coretan merupakan acara klise yang diadakan setiap tahunnya untuk merayakan lepasnya tugas siswa kelas tiga semasa SMA. Walaupun sebenarnya kami belum dinyatakan lulus, tetap saja kan?
Namun ketika Danar berjalan menuju tengah lapangan, aku langsung mengutuk diri karena tidak melangkahkan kaki ku untuk menghampiri pria itu terlebih dahulu. Bahkan sebelum aku dapat mengedipkan mata, Danar sudah di gandeng oleh kekasihnya, Aurora. Screw you, ego.
Memang sih, Aurora bukan tipe pacar yang jahat seperti di film-film. Justru menurutku, Aurora merupakan orang yang sangat pas untuk Danar yang menyebalkan itu. Bahkan tanpa polesan apapun, hidung mancung dan bulu mata lentik Aurora dapat memikat laki-laki manapun. Badannya yang mungil, justru terlihat anggun sekaligus lucu ketika berjalan di koridor. Ia juga merupakan orang yang easy going dan sangat friendly terhadap siapapun. Ku ulangi sekali lagi, siapapun.
Jadi untuk membenci seorang Aurora, rasanya sangat tidak memungkinkan bagi Indira.
Di saat-saat seperti ini, aku mengutuk diriku sendiri karena tidak berani menghampiri sahabatku. Tidak berani untuk melangkah satu kaki pun mendekatinya karena aku segan untuk bertemu dengan Aurora. Segan karena aku tahu apabila kekasihku dekat dengan perempuan lain, aku pasti akan merasa sakit hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasanya

Pahit