Rama dan Shinta

Pandanganku terpaku pada layar ponsel milik Farah yang ku pinjam untuk memainkan permainan yang sedang marak akhir-akhir ini, 2048. Dimana kita harus menggeser angka pada angka yang sama, dan angka tersebut akan berlipat ganda. Misalkan dua dengan dua menjadi empat, kemudian empat dan empat menjadi delapan, berlanjut ke enam belas, tiga puluh dua, enam puluh empat dan seterusnya hingga menjadi angka dua ribu empat puluh delapan.
Sampai akhirnya seorang gadis yang sudah dapat kuanggap sahabat selama dua tahun belakangan ini memanggilku. "Shinta," ujarnya menepuk bahuku, kemudian tanpa menunggu balasanku ia pun melanjutkan kata-katanya, "Anterin ke kantin yuk, gue laper nih."
Masih sibuk mencari cara agar angka seratus dua puluh delapan bertemu dengan pasangannya yang berada di sisi yang bertolak belakang dengannya, aku menggeleng. "Nggak ah, lagi asik."
Farah memutar tatapannya kemudian mengubah posisi duduknya menjauh dariku sekitar dua sampai tiga sentimeter. "Ya sudah, kalau tidak mau bertemu dengan.. Rama."
Mataku membelalak. Tentu saja, aku sudah tak melihat pria itu sejak tiga bulan yang lalu setelah kelulusannya. Padahal dulu, aku tak pernah absen memperhatikannya dari jendela kelas setiap harinya. Maklum lah, seorang junior yang menyukai senior kelas tiga. Mau apa lagi?
"Tadi sih kata Ricky dia ada di kantin." Ricky. Nama paling menyebalkan yang pernah kudengar. Pria satu itu benar-benar tidak bermanfaat. Dia kan pacar dari sahabatku sekaligus sahabat dari pangeran berkudaku. Kenapa dia tidak mencoba menjadi mak comblang saja sih? Untung-untung kan, dia bisa dapat pajak jadian dariku.
Rama. Rama. Rama. Haruskah aku ke kantin?
"Ayo deh. Tapi beliin es teh ya." Angka lima ratus dua belas dengan lima ratus dua belas pun bersatu menjadi seribu dua puluh empat. Berarti tinggal satu langkah lagi mencari es teh ku. Eh, maksudku dua ribu empat puluh delapan. Samar-samar aku melihat Farah setuju, kemudian aku pun mengikutinya dari belakang, masih tetap mata tertuju pada layar ponsel dan mencari cara supaya bisa membuat angka seribu dua puluh empat lainnya.
Dukk..
Kepalaku terbentur pintu yang dibuka dari luar. Aku mengelus kepalaku sebentar dan kembali menatap layar ponselku. Tak peduli siapapun itu yang berkali-kali meminta maaf, toh itu bukan masalah besar buatku. Aku pun kembali melangkah menuju ke kantin, mengikuti bayang-bayang Farah di depanku.
Efek kepala yang terbentur itu masih terasa, aku jadi tidak bisa berpikir kemana seharusnya tanganku menggeser angka-angka di layar. Hingga saat aku menggesernya kearah kanan dan muncul papan game over di layar, aku pun merasa kecewa. "Ah, apaan nih tinggal dikit lagi juga." Seruku kesal. Kemudian aku menutup permainan tersebut dan hendak memberikan ponsel kepada sang empunya. "Nih, Far. Nggak seru banget.."
Rambutnya yang panjang itu loh,
Kumis tipis yang baru tumbuh,
Kulitnya yang lebih kecokelatan,
Otot-otot yang menyembul dari kaus oblong hitamnya yang mengepas badan,
Dan ia menerima ponsel Farah dengan tangannya yang.. Argh! Rasanya ingin langsung menggenggam tangan itu.
"Loh, kok permainannya yang disalahin?" Tanyanya.
Aduh, duh, duh. Suaranya.. Baru kali ini aku mendengarnya bersuara, sedekat ini.
Aku hanya bisa terdiam di hadapannya. Dengan mata yang bisa-bisanya, tidak berhenti menatap wajahnya yang sempurna.
Kacamata nya itu loh,
Hidungnya yang mancung,
Bibirnya yang merah,
Nikmat Tuhan yang didepan mata ku kini benar-benar tak bisa ku dustakan.
Rama memberikan ponsel tersebut kepada sang empunya. Dari jarak ini, tentu saja aku masih bisa melihat Farah yang cekikikan melihat aku ternganga dihadapan pangeranku. Sahabat macam apa dia?  
Intinya, Rama berubah banyak.
Dan aku semakin tergila-gila.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasanya

Pahit

Spidol Biru