Pos

Menampilkan postingan dari September, 2015

Rama dan Shinta

Pandanganku terpaku pada layar ponsel milik Farah yang ku pinjam untuk memainkan permainan yang sedang marak akhir-akhir ini, 2048. Dimana kita harus menggeser angka pada angka yang sama, dan angka tersebut akan berlipat ganda. Misalkan dua dengan dua menjadi empat, kemudian empat dan empat menjadi delapan, berlanjut ke enam belas, tiga puluh dua, enam puluh empat dan seterusnya hingga menjadi angka dua ribu empat puluh delapan. Sampai akhirnya seorang gadis yang sudah dapat kuanggap sahabat selama dua tahun belakangan ini memanggilku. "Shinta," ujarnya menepuk bahuku, kemudian tanpa menunggu balasanku ia pun melanjutkan kata-katanya, "Anterin ke kantin yuk, gue laper nih." Masih sibuk mencari cara agar angka seratus dua puluh delapan bertemu dengan pasangannya yang berada di sisi yang bertolak belakang dengannya, aku menggeleng. "Nggak ah, lagi asik." Farah memutar tatapannya kemudian mengubah posisi duduknya menjauh dariku sekitar dua sampai tiga sentimete…

Bingung

Seorang remaja tengah duduk melamun. Dalam otaknya terjadi beribu pertengkaran dengan batinnya sendiri, sampai akhirnya seseorang menyodorkan sebotol air mineral dihadapannya. “Nih, jernihin dulu otak lo.”             Laki-laki tersebut pun kebingungan, tapi ia tetap menerima air mineral tersebut dan menenggaknya. “Gue bingung sama lo,” Ujar kawannya itu, “Pacaran sama yang cantik udah sering, jelek juga pernah, tinggi sering, pendek apa lagi, kulit hitam atau kulit putih juga kayaknya udah ganti-gantian tuh, gendut kurus biasa, mulai dari yang bodoh sampai yang terakhir kali, lo dapet yang pinter pun lo masih kaya gini. Sebenernya lo pengen cewe kaya apa sih?”             “Nah itu dia, gue juga bingung.”             Kawan dari pria tersebut pun justru membuang napas kesal, “Lo sendiri kan yang bilang mau fokus. Tapi toh akhirnya sama juga. Kasihan juga gue ngeliatnya,” Saran kawannya tersebut. “Mending lo mantapin dulu hati lo, biar lo yakin.”