Secangkir Kopi Hitam

                Secangkir kopi hitam lagi-lagi berada dalam genggaman tangannya.

                Aku membencinya, saat ia mulai menggenggam cangkir tersebut dengan pandangan kosong. Ia selalu seperti itu setiap kali ia memiliki masalah. Hanya menggenggam cangkir sambil menghirup aroma dari minuman tersebut, namun tidak sekalipun ia meminum isi dari cangkir tersebut.
                Dan hanya akulah yang selalu ada setiap kali ia melakukan ritual aneh ini. Sehingga hanya aku satu-satunya manusia yang terpaksa meminum kopi hitam yang rasanya sangat pahit itu selama sekitar tujuh tahun belakangan ini. Memang sih, kebiasaan buruk ini dimulai karena kecerobohanku juga. Aku sempat berkata padanya bahwa Almarhum Ayah yang selalu menghirup aroma kopi sebelum meminumnya, karena menurutnya, bau kopi sangat menenangkan. Dan kenyataan itu memang benar adanya.
Bukannya aku tidak menyukai kopi, aku justru sangat menyukainya, apalagi ia selalu memberikanku gratis. Tapi ia selalu memberikan cangkir tersebut saat kopinya pun dingin. Apa nikmatnya menyeduh kopi dingin dengan rasa pahit selama tujuh tahun? Dan lagi, kebiasaan buruknya yang satu ini mulai meningkat dari sebulan yang lalu. Lidahku mungkin mulai terasa pahit karena harus meminum tiga gelas setiap minggunya, yang dalam keadaan normal, mungkin aku akan mengkonsumsi kopi sekitar dua minggu sekali.
                Well, biasanya aku memang tidak cerewet dan bertanya-tanya apa masalah yang ia hadapi. Tapi ketika aku bertanya, ia justru melengos sambil berkata, “Kau terlalu banyak bertanya, kak. Kalau kau sudah bosan, mungkin lebih baik kita pulang kerumah sekarang.”

                Aku melihatnya berdiri sambil merapihkan pakaiannya, aku sadar ia sedang mencari kesibukan. Cepat-cepat kuambil cangkir kopi tersebut dan meminumnya selagi masih sedikit hangat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasanya

Pahit