Kenapa?

                "Gavyn," panggilku saat Gavyn terus saja menambah laju kendaraannya. "Gavyn, stop!"
                Biar ku perjelas terlebih dahulu. Gavyn bersikap aneh sejak pulang sekolah tadi. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba saja ia berbicara dengan nada ketus setiap kali aku mengajaknya bicara. Tangan kanannya sudah penuh luka-luka lebam.
                Kini ia tengah memberhentikan motornya secara tiba-tiba. Gavyn melepas helm dan memutar badannya menghadap kearahku, "Kenapa?"
                Wajahnya dipenuhi raut kesal, tangan kanannya mengepal hingga luka yang seharusnya menutup kini sudah membuka kembali aliran kecil darah. "Aku yang seharusnya tanya kaya gitu," Ku lipat kedua tanganku didepan dada sambil menaikkan sebelah alis meminta pernyataan lebih lanjut. "Kenapa?"
                "Gavyn Darell, tolong jawab pertanyaanku." Aku menghitung sampai sepuluh dengan hitungan lambat, namun Gavyn tetap tidak menggubris. Kesabaranku sudah mulai habis, kuputuskan untuk turun dari motornya dan mulai berjalan. Perjalanan menuju kerumah ku masih terlampau jauh, sekitar delapan atau sembilan kilometer lagi.
                Aku benar-benar tidak peduli padanya, jelas-jelas aku tidak peduli, kan? Aku tidak peduli kalau saja dia tidak mengejarku atau marah dan menyuruhku kembali naik ke jok belakang motornya. Terus berjalan sampai kira-kira satu kilometer, atau kurang? Kenapa aku jadi selemah ini sekarang? Ah, tidak. Matahari memang sedang bersinar terik. Aku mengumpat pada si penyinar dunia dan duduk di pinggir trotoar.
                "Sudah menyerah, tuan putri?" Ia menyindirku. Jelas sekali ia tengah menyindirku. Ku tatap matanya yang tajam itu, tapi tak berhasil menemukan amarahku, yang ku dapat malah aku justru makin terpesona padanya. Pada mata hijaunya, pada wajahnya yang teramat tampan, pada sifatnya yang kekanakan, dan pada semua hal yang ada dalam dirinya.
                "Kau tahu kalau kau akan mendapatkan masalah jika membiarkan tuan putri ini kelelahan kan, pelayan?" Ujarku dengan memberikan penekanan pada kata-kata terakhir. Gavyn menyeringai lebar, mengingatkanku pada sahabatku yang akan membuatku histeris begitu ia menyengir seperti Gavyn. Tapi pria dihadapanku ini memang berbeda, ia.. Membuatku terpesona, setiap waktunya.
                "Sebaiknya tuan putri jelaskan padaku terlebih dahulu, kenapa topik perbincanganmu dengan cowo brengsek itu adalah aku?" Ujarnya. Aku mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang dikatakannya. Cowo brengsek? Membicarakan dia?
                "Maksudmu.. Kenzie?" Wajahnya mengerut, aku tahu pasti dugaanku benar. Tawaku meledak. "Kau sungguh terlalu percaya diri, wahai pelayanku."
                Dan begitulah, aku menceritakan seluruh kejadiannya. Manik matanya yang indah terus menerus menatap bibirku yang tengah berbicara. Wajah yang tadinya tegang akhirnya melembut dan ia pun memelukku. Ia tahu hatiku kini hanya miliknya, dan tidak akan pernah kembali pada cowo brengsek yang ia sebut-sebut itu. Aku setuju padanya, cowo itu memang brengsek.
                Bulu-bulu halus dibelakang leherku mulai merinding.  Gavyn menatapku dengan heran, "Kenapa ?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasanya

Pahit