Pos

Menampilkan postingan dari 2015

Rama dan Shinta

Pandanganku terpaku pada layar ponsel milik Farah yang ku pinjam untuk memainkan permainan yang sedang marak akhir-akhir ini, 2048. Dimana kita harus menggeser angka pada angka yang sama, dan angka tersebut akan berlipat ganda. Misalkan dua dengan dua menjadi empat, kemudian empat dan empat menjadi delapan, berlanjut ke enam belas, tiga puluh dua, enam puluh empat dan seterusnya hingga menjadi angka dua ribu empat puluh delapan. Sampai akhirnya seorang gadis yang sudah dapat kuanggap sahabat selama dua tahun belakangan ini memanggilku. "Shinta," ujarnya menepuk bahuku, kemudian tanpa menunggu balasanku ia pun melanjutkan kata-katanya, "Anterin ke kantin yuk, gue laper nih." Masih sibuk mencari cara agar angka seratus dua puluh delapan bertemu dengan pasangannya yang berada di sisi yang bertolak belakang dengannya, aku menggeleng. "Nggak ah, lagi asik." Farah memutar tatapannya kemudian mengubah posisi duduknya menjauh dariku sekitar dua sampai tiga sentimete…

Bingung

Seorang remaja tengah duduk melamun. Dalam otaknya terjadi beribu pertengkaran dengan batinnya sendiri, sampai akhirnya seseorang menyodorkan sebotol air mineral dihadapannya. “Nih, jernihin dulu otak lo.”             Laki-laki tersebut pun kebingungan, tapi ia tetap menerima air mineral tersebut dan menenggaknya. “Gue bingung sama lo,” Ujar kawannya itu, “Pacaran sama yang cantik udah sering, jelek juga pernah, tinggi sering, pendek apa lagi, kulit hitam atau kulit putih juga kayaknya udah ganti-gantian tuh, gendut kurus biasa, mulai dari yang bodoh sampai yang terakhir kali, lo dapet yang pinter pun lo masih kaya gini. Sebenernya lo pengen cewe kaya apa sih?”             “Nah itu dia, gue juga bingung.”             Kawan dari pria tersebut pun justru membuang napas kesal, “Lo sendiri kan yang bilang mau fokus. Tapi toh akhirnya sama juga. Kasihan juga gue ngeliatnya,” Saran kawannya tersebut. “Mending lo mantapin dulu hati lo, biar lo yakin.”

Secangkir Kopi Hitam

Secangkir kopi hitam lagi-lagi berada dalam genggaman tangannya.
                Aku membencinya, saat ia mulai menggenggam cangkir tersebut dengan pandangan kosong. Ia selalu seperti itu setiap kali ia memiliki masalah. Hanya menggenggam cangkir sambil menghirup aroma dari minuman tersebut, namun tidak sekalipun ia meminum isi dari cangkir tersebut.                 Dan hanya akulah yang selalu ada setiap kali ia melakukan ritual aneh ini. Sehingga hanya aku satu-satunya manusia yang terpaksa meminum kopi hitam yang rasanya sangat pahit itu selama sekitar tujuh tahun belakangan ini. Memang sih, kebiasaan buruk ini dimulai karena kecerobohanku juga. Aku sempat berkata padanya bahwa Almarhum Ayah yang selalu menghirup aroma kopi sebelum meminumnya, karena menurutnya, bau kopi sangat menenangkan. Dan kenyataan itu memang benar adanya. Bukannya aku tidak menyukai kopi, aku justru sangat menyukainya, apalagi ia selalu memberikanku gratis. Tapi ia selalu memberikan cangkir tersebut saat kopiny…

Kenapa?

"Gavyn," panggilku saat Gavyn terus saja menambah laju kendaraannya. "Gavyn, stop!" Biar ku perjelas terlebih dahulu. Gavyn bersikap aneh sejak pulang sekolah tadi. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba saja ia berbicara dengan nada ketus setiap kali aku mengajaknya bicara. Tangan kanannya sudah penuh luka-luka lebam. Kini ia tengah memberhentikan motornya secara tiba-tiba. Gavyn melepas helm dan memutar badannya menghadap kearahku, "Kenapa?" Wajahnya dipenuhi raut kesal, tangan kanannya mengepal hingga luka yang seharusnya menutup kini sudah membuka kembali aliran kecil darah. "Aku yang seharusnya tanya kaya gitu," Ku lipat kedua tanganku didepan dada sambil menaikkan sebelah alis meminta pernyataan lebih lanjut. "Kenapa?" "Gavyn Darell, tolong jawab pertanyaanku." Aku menghitung sampai sepuluh dengan hitungan lambat, namun Gavyn tetap tidak menggubris. Kesabaranku sudah mulai habis, kuputuskan untuk turun dari motornya dan …