Hampir Menyerah

(Based On a Song: Little Mix - Good Enough)

I am the diamond you left in the dust
I am the future you lost in the past
Seems like I never compared
Wouldn't notice if I disappeared
                Aku berjalan sambil menenteng delapan mawar putih ditangan kanan. Tersenyum karena lagi-lagi perkiraanku benar, ia belum sampai dikelasnya saat ini. Jadi kuletakkan rangkaian bunga cantik itu diatas mejanya, seperti biasa.
                Bukannya aku romantis, aku sedang berusaha melakukannya. Jadi seseorang yang keturunan kota paling romantis di dunia benar-benar tidak membantu. Aku sampai harus meminta tolong Riko, sahabat kekasihku, atau Roe, kakak perempuanku yang menyebalkan, untuk mencari cara supaya aku bisa membuatnya bahagia.
                What the h... Aku berusaha menenangkan jantungku yang hampir saja copot. Kenapa cowo aneh ini selalu datang tiba-tiba? Weirdo! Aku langsung memasang wajah sok cool-ku dan berjalan kearahnya.
                "Weits, tumben amat lo hari gini udah nongol." Tegurnya sopan. Aku menyunggingkan senyum miring yang sebenarnya kelihatan sedikit sinis. Apa? Memangnya salah aku bersikap jahat pada mantan kekasih dari kekasihku?
                "Biasalah, tugas bulanan." Jawabku sok cool sambil menunjuk bunga mawar diatas meja Rhea dengan daguku.
                Ia mengangkat sebelah alisnya, matanya menatap tajam kearahku. Jujur, kalau ditatap seperti itu oleh sesama jenis rasanya sangat.. Mengerikan. "Delapan bulan? Ck. Lo nggak tekor tuh beliin dia bunga tiap bulan?"
                Pertanyaannya membuatku terkekeh pelan, "Tenang aja, gue dapet potongan harga karena udah langganan." Lalu membalas tatapannya, "Namanya juga sayang, Ken. Apa aja rela dikorbanin." Ucapanku membuatnya berang. Ups! Rasanya ada yang merasa tersindir nih, buru-buru kabur ah.
                Biarpun aku berhasil memenangkan percakapan aneh itu, aku masih belum bisa memenangkan hati Rhea, yang masih saja ditutup dan terisi oleh Kenzie si cowo aneh yang pelit itu.

You stole the love that I saved for myself
And I watched you give it to somebody else
But these scars no longer I hide
I found the light you shut inside
Couldn't love me if you tried
                Aku tak bisa terus berpura-pura bodoh dan tak melihat segalanya. Tidak tahu kalau ternyata hampir setiap kali aku bersama Rhea, Kenzie melihat kami secara diam-diam. Pura-pura terkejut karena Kenzie dan Alanna pergi bersama dan dengan tidak sengaja bertemu kami. Padahal aku tahu pasti Kenzie sudah merencanakannya. Memangnya dia kira aku sebodoh itu? Walaupun cowo itu nggak sejelek yang dikatakan orang-orang, tetap saja jadi ancaman kan?
                Biarpun dompetku menipis seperti apa yang dikatakan oleh Kenzie, untungnya orangtua ku sangat menyetujui hubunganku dengan Rhea. Jadi ya, saat dompetku makin ironis, aku bisa minta uang tambahan pada mereka. Lagipula mereka mengerti kalau aku memang ingin membahagiakan Rhea.
                Sayangnya, hari ini sisa uang didompetku tinggal duapuluh ribu rupiah. Sangat menyedihkan mengingat aku harus pulang dan bensin motorku hampir habis. Dan sayangnya lagi, aku belum sempat minta uang tambahan dari orangtuaku.
                Aku melihatnya mendatangiku sambil membawa Jus Strawberry kesukaannya. "Hai, By." Sapanya sambil mencium pipiku kilat. Aku tersenyum, walaupun aku tahu dia masih menyimpan nama Kenzie Mahardika si cowo weird itu dihatinya, aku tahu pasti dia juga berusaha menaruh namaku disana.
                "Kamu nggak makan? Tumben banget." Duh! Rhea, jangan ungkit masalah makanan dulu dong. Aku benar-benar makin lapar sekarang. "Oh iya, oke. Tunggu ya." Apa? Tunggu apa?
                Tak sadar aku tengah membelalakan mataku yang besar ketika melihatnya membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dan lemon tea kesukaanku.
                "Makan." Katanya sambil meletakkan nampan tersebut. Mataku makin membelalak lebar, "Apa-apaan nih?"
                Ia terkekeh pelan, "Aku tau, kamu lagi nggak ada uang kan? Mama kamu kemarin cerita sama aku. Kamu belom sempet minta uang sama dia, padahal udah tanggal segini biasanya kamu minta. Sekarang mendingan kamu makan. Nggak kasihan pacar kamu udah bawain dan ngebeliin gini buat kamu?"
                Aku menggeleng kuat. Khas anak kecil yang menolak perintah ibunya. "Jangan sok tahu deh, aku emang lagi nggak pengen makan." Tapi perutku malah menggerung kencang. Membuatnya tertawa terbahak-bahak.
                "Emang lagi nggak pengen makan." Ledeknya sambil menirukan suaraku. "Gavyn, nurut ya sama aku. Sekarang kamu makan deh mendingan, aku nggak mau ngeliat nasi gorengnya nangis gara-gara nggak kamu makan." Mengikuti kata-kataku ketika dia bersikeras tidak makan saat kami dinner.
                Jangan coba-coba berhadapan denganku kalau tidak mau kukeluarkan sifat kejahilanku, "Suapin." Kupikir ia bakal mundur dan tak menyuruhku makan lagi. Tapi ia justru menyodorkan sesendok penuh nasi goreng.
                Setelah beberapa suapan, aku melihatnya mengusap tengkuknya. Tanpa menengok, aku melirik kesembarang arah dan menemukan orang itu. Cemburu? Rasanya aku ingin menertawakan tepat didepan wajahnya. Siapa suruh menyia-nyiakan orang sesempurna Rhea? Dasar bodoh.
                Aku tidak mau membuatnya menyadari kalau ia tengah diperhatikan oleh cowo weirdo itu, jadi ku cium puncak kepala dan pipinya berkali-kali. Berusaha membuatnya kesal atas perlakuanku. Wajahnya memerah menahan malu dan kesal. Aku tertawa terbahak-bahak, tak bisa menahan ketika melihat wajahnya yang makin lucu ketika ekspresinya berubah seperti itu. "Makasih, by. I love you."
                Ia tersenyum, "I love you too, Gavyn." Liar!

Am I still not good enough?
Am I still not worth that much?
I'm sorry for the way my life turned out
Sorry for the smile I'm wearing now
Guess I'm still not good enough
                Kutatap bayanganku yang berada dibalik kaca. Menurut penglihatanku yang tidak bermasalah, aku nggak jelek kok. Bahkan perempuan-perempuan disekolah banyak yang memujaku layaknya sedang melihat seorang pangeran. Wajah ini cuma satu-satunya yang bisa membuatku bangga menjadi separuh keturunan Prancis. Mata biru koral, hidung mancung dan bibir merah alami sudah membuktikannya. Rambutku saja yang kecokelatan berhighlight pirang ini kutata rapih yang modelnya sama dengan Zayn Malik, salah satu anggota boyband One Direction yang sedang digandrungi banyak kaum hawa itu, hitung-hitung biar kelihatan makin ganteng juga hehe. Lalu, kenapa aku masih saja kalah dari seorang Kenzie ya? Padahal cowo itu bahkan lebih pendek daripada aku, kulitnya sawo matang akibat kebiasaan main dilapangan outdoornya, dan dia emang benar-benar asli Indonesia banget. Satu-satunya kemungkinan yang membuat Rhea dan perempuan lain menyukainya adalah, sorot matanya yang menurutku sangat menyeramkan itu. Sadar atau tidak, bahkan Rhea sendiri selalu mengusap tengkuk lehernya yang putih itu ketika sedang dipandang oleh Kenzie.
                Kalau dipikir-pikir, Rhea memang bukan perempuan biasa. Dia emang beda banget dari yang lain. Kalau saja kebanyakan dari spesies mereka meneriakki ku karena ketampananku, ia malah berusaha mencari dan menyupport kelebihanku yang kudapat dari usahaku sendiri. Ia satu-satunya perempuan yang dengan keras kepalanya menolak ajakanku untuk malam minggu, berbeda dengan perempuan lain yang bahkan menyuruhku menemani mereka belanja.
                Jadi ya, jangan salahkan aku kalau aku memang benar-benar seperti pria bodoh yang tidak peduli dengan keadaan sekitar. Aku beruntung memilikinya, dan akan sangat beruntung jika aku benar-benar memiliki hatinya nanti.
                Aku sering berpikir bahwa yang kulakukan untuk Rhea kurang membuatnya percaya bahwa aku menyayanginya dengan sungguh-sungguh, bahkan aku sempat berpikir untuk mundur. Tapi aku ini Gavyn Darell, pria yang tidak mengenal kata menyerah, kan? Aku bukan pengecut seperti Kenzie Mahardika. Jadi ya, aku akan berusaha lebih dan lebih untuk mendapatkan hatinya.

Does it burn
Knowing I used all the pain?
Does it hurt
Knowing you're fuel to my flame?
Don't look back
Don't need your regrets
Thank God you left my love behind
Couldn't change me if you tried
                Kulangkahkan kakiku lebih cepat dari biasanya kearah kelas Rhea yang lumayan jauh dari kediaman kelasku. Gara-gara guru Kimiaku yang menambah jam pelajaran lebih lama sesuai keinginannya, aku jadi telat mengajak Rhea pulang.
                Dan kini aku mulai merutuki guru jelek itu dengan kata-kata kasar yang dilarang keras untuk dibicarakan oleh ayahku dirumah ketika melihat Rhea sedang berbicara dengan cowo bodoh itu. Kuputuskan untuk menguping pembicaraan mereka dulu sebelum menggebrak cowo itu. Aku berjongkok dibalik tembok didekat tempat mereka berbicara.
                "...aku tahu pasti kamu masih sayang sama aku, Rhea. Maafin aku karena udah ninggalin kamu. Aku bener-bener buta dan bodoh banget saat itu. Tapi percayalah, aku bener-bener nyesel banget dan aku sayang banget sama kamu. Lagian, apasih yang kamu liat dari Bule Brengsek itu? Kamu cuma dimainin sama dia, Rhea. Dia cuma mau mencari sensasi. Percaya sama aku, dear."
                Dasar cowo keparat! Siapa disini yang sebenarnya brengsek, hah? Berani-beraninya mengataiku dihadapan Rhea. Dari kejauhan, aku bisa melihat dengan pasti Rhea mengangkat sebelah alisnya, "So?" Lalu ia mengusap tengkuk lehernya. Selalu seperti itu.
                Oh, Tuhan. Aku merasakan adanya pembelaan dari seorang Rhea. Tolong jangan kecewakan aku.
                "So? Kamu tau sendiri apa kata-kata selanjutnya yang pengen aku omongin."
                "Gavyn, ya? Aku seneng banget bisa tahu apa penilaian kamu tentang cowo itu. Kenzie Mahardika, aku emang sayang banget sama kamu.."
                Sh.. Apa-apaan itu? Aku tak bisa menahan emosiku, tapi aku tak akan sebodoh itu untuk menggebrak mereka seperti apa yang ada dipikiranku sebelumnya. Ku biarkan kakiku melangkah membawaku pergi, dan terhenti di.. Toilet?
                Argh! Aku tahu pasti si brengsek Kenzie itu melihatku tadi. Aku sangat yakin dengan hal itu. Belum sempat menenangkan diri, aku sudah memukul tembok dengan tangan kananku sekuat tenaga. Bahkan jika dalam kondisi normal, aku tak akan pernah bisa memukul sehebat ini. Aw! Bodoh, kulihat tanganku yang memar kemerahan, serta lecet-lecet darah yang anehnya tidak sebesar yang kuperkirakan. Dan sakitnya, tidak lebih parah dari saat aku melihat adegan aneh tadi.
                Kutarik napas dan membuangnya berkali-kali dengan tempo lambat, berusaha menenangkan diri seperti yang pernah diajarkan ibuku. Tak ingin jadi monster yang ditakuti oleh orang lain, oke aku bukan Hulk, tapi kalau sedang marah, siapa tahu? Lagipula, siapa yang mau melihat cowo setampan aku berubah jadi Shrek? Kalau Kenzie yang berubah sih, tak apa. 

Release your curse
'Cause I know my worth
Those wounds you made are gone
You ain't seen nothing yet
Your love wore thin
And I never win
You want the best
So sorry that's clearly not me
This is all I can be
                "Hey, aku cariin kamu ke kelas tadi nggak ada, kukira kamu nungguin disini." Ujarnya ketika aku mendekat. Badannya menyender kebadan motorku.
                Aku menepuk kening berpura-pura lupa akan sesuatu, "Oh iya! Maaf ya, By. Soalnya tadi perutku sakit banget, jadi ya ketoilet dulu deh." Ujarku sambil cengengesan.
                Tapi sayangnya ucapanku tidak digubris sama sekali oleh Rhea. Pandangannya justru jatuh pada tangan kananku. Buru-buru ku sembunyikan tangan itu dibalik punggungku. "Tangan kamu kenapa? Kok lebam-lebam gitu?" Tanyanya sambil berusaha meraih tanganku.
                Aku hanya meringis menahan perihnya ketika ia mulai menyentuh luka-luka itu. Mungkin hanya kecil dibagian luar, rasanya tulang-tulang itu akan retak jika ia terus memegangnya. "Nggak papa, cuma masalah kecil." Ucapanku hampir-hampir hanya untuk meyakinkan diri sendiri.
                Matanya terus menelusuri tiap lebam dan luka di tanganku. Tanpa sadar aku telah membuka mulutku, "Rhea?"
                "Hmm?"
                Aku jadi tergagap sendiri, bingung akan berbicara apa. "Aku sayang kamu."
                Rhea terlihat sedikit kaget dengan ucapanku, padahal seharusnya ia terbiasa bukan? Aku sering mengucapkannya. Kelewat sering hingga diapun bosan jika aku mengucapkannya sekali lagi.
                Tapi ia mengucapkan kata-kata itu, "Aku juga sayang kamu, vyn." Liar! Baru tadi aku mendengarmu bilang bahwa kau menyayangi Kenzie, Rhea. Aku sungguh tak butuh balasan, aku hanya ingin mengucapkan kata itu padamu. Tolong jangan balas jika kau tak pernah merasakannya.
                "Ehm, kita pulang yuk?"

Am I still not good enough?
Am I still not worth that much?
I'm sorry for the way my life turned out
Sorry for the smile I'm wearing now
Guess I'm still not good enough
                Jadi, siapa yang sebenarnya salah disini?
Dia yang mendapatkan hati kamu,
Kamu yang berhasil mendapatkan hati aku,
Atau bahkan aku yang dengan bodohnya memberikan hatiku padamu?
                Entahlah, pertanyaan mudah yang terlalu sulit untuk dijawab.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Menarik Ketika Seseorang Jatuh Karena Sebuah Kerikil

Pelangi

Rasanya