Salahku

(Based On a Song: Justin Bieber - That Should Be Me)

Kenzie
Everybody's laughing in my mind
Rumors spreading about this other guy
Do you do what you did when you
Did with me?
                Aku ingin pulang dan membenamkan kepalaku yang sudah panas dengan sebaskom air es. Bukannya langsung melakukannya, dan sebenarnya sangat ingin melakukannya, aku justru tetap bermuka badak dan benar-benar pasang gaya nggak tahu malu.
                Kedua indra pendengarku juga ikut-ikut panas sampai-sampai aku ingin mengipasi mereka. Mendengar omongan orang yang nggak pernah melihatnya dari dua sisi emang nyebelin banget.
                "Ya emang, gue jadi Rhea juga bakal milih Darell lah. Udah bule, ganteng, tinggi, romantis, ya ampun! Kurang apalagi coba?" Ujar salah seorang murid yang memakai baju super kecil, rok super pendek, dan wajah dengan riasan super tebal. Yang sayangnya meja tempat ia duduk berada tepat didepan mejaku, Bela. Kabarnya dia ingin ikut-ikutan seperti Alanna, tapi kenyataannya ia malah terlihat seperti badut yang sedang menuntut ilmu. "Lagian ya, biasanya pemain basket itu menjanjikan. Banyak fans, bikin kita ikutan naik juga sebagai pacarnya. Apalagi kalo cowonya ganteng. Kalo anak futsal mah, nggak ada keuntungannya buat kita. Nungguin cowo lari-lari dilapangan, kalopun ada yang suka sama tim mereka, pasti cowo. Lagipula, mana ada cewe yang ngerti bola? Aduh, intinya cowo futsal ataupun pemain sepakbola itu ngebosenin banget!"
                Bodoh. Basket juga lari-lari dilapangan. Untuk apa lari dilapangan cuma buat tebar pesona kaya Darell? Lebih bodohnya lagi, aku merasa tersinggung.
            Tidak hanya Bela yang kudengar mencelaku secara tidak sengaja, kurasa, hari ini. Bahkan orang-orang yang tidak aku kenal juga sempat membicarakanku layaknya ia tahu apa yang terjadi padaku dan Rhea.
                "Kayaknya Rhea sama Darell bakal jadi couple of the year deh, mereka serasi banget! Rhea-nya cantik Darell-nya ganteng. Mana Darellnya rela ngelakuin apa aja buat Rhea. So sweet banget!"
            Oke! Ku akui aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar. Mungkin terbesar selama hidupku. Tapi tidak usah sampai menghinaku sebegitu kejamnya kan?
                "Iya, bener banget. Asal mereka jangan putus aja. Cocok banget, sayang kalo putus."
                "Hmm. Lagian ya, Darell itu tulus sayang sama Rhea. Nggak kaya.. Eh, terus nih, kalo sampe mereka putus, pasti penyebabnya dia doang."
                Sejak kapan aku mencuri dengar percakapan orang? Atau mereka yang sengaja memperbesar suara supaya aku mendengarnya? Pilihan kedua mungkin lebih baik. Tapi aku tidak peduli.
                Lalu aku melihatnya, dirangkul oleh kekasih barunya. Aku bahkan tak pernah bisa meraih tangannya. Rasa cemburu makin menggerogoti tubuhku, apalagi saat aku melihat wajahnya yang begitu bahagia. Tetap saja itu semua palsukan? Aku tau dia masih punya rasa padaku.
                Dan Darell pun memeluknya. Ada sesuatu yang rusak dan rapuh dalam diriku. Entahlah, aku bahkan tak bisa mengerti mengapa aku menyia-nyiakannya dulu. Aku tak menyangka bahwa aku tengah memberinya tatapan tajam kali ini, yang langsung aku sadari saat ia mengusap tengkuk leher jenjangnya yang putih. Khasnya setiap kali aku menatapnya tajam.

Does he love you the way I can?
Did you forget all the plans
That you made with me?
'cause baby I didn't
                Berani bertaruh, Darell hanya mencari sensasi didepan muka umum. Habis.. Mana ada orang yang benar-benar peduli pada pacarnya, bahkan mengapal semua pelajaran dan guru-guru yang akan mengajar kekasihnya?
                "By, nanti malam kita jadi nonton kan? Kamu mau nonton apa? Catching Fire katanya bagus loh, tapi aku terserah kamu aja. Oh! Jangan makan dulu, kita sekalian dinner nanti. I'll pick you at seven, okay?" Pertanyaan yang Darell berikan pada Ale, ehm.. Rhea terlalu banyak, dan cewe itu tidak pernah suka dengan cowo bawel, selain Riko sahabatnya.
                Tapi tanggapan Rhea yang justru membuatku kaget. Ia justru tersenyum dan mencubit hidung mancung milik Darell, "Okay, Bawel."
                Catching Fire. Bukannya film itu yang dijanjikannya akan nonton bersamaku? Dasar bule keparat! Itu jatahku! Kau boleh ambil semuanya, tapi jangan Rhea! Jangan ambil momentum yang seharusnya aku lakukan bersamanya, bodoh.
                Tapi setelah dipikir-pikir, yang bodoh disini sebenarnya adalah aku. Untuk apa aku melepas jika akhirnya aku benar-benar sayang padanya? Entahlah, otakku terasa panas dan aku benar-benar perlu mendinginkannya saat ini. Ku ambil tas sekolahku dan berjalan melewati mereka menuju pintu. Tatapanku berhenti pada Rhea yang langsung mengusap tengkuknya.
                Masa bodoh dengan pelajaran terakhir. Aku berjalan ke kantin sambil meneriaki kata-kata kasar pada beberapa orang yang melewatiku atau tidak sengaja menabrakku. Lalu aku melihatnya, perempuan cantik yang selalu membuatku mengalihkan perhatian dari Rhea padanya.

That should be me
Holdin' your hand
That should be me
Makin' you laugh
That should be me
This is so sad
                "I think you should move on, Kenzie. Jangan ngendep mulu sama satu cewe. Apalagi kalo dia udah bahagia sama cowo lain." Ujar Alanna. Mungkin memang benar, aku memang harus move on. Lagipula, mana mungkin aku akan membiarkan perempuan sebaik dia kembali kepelukanku kan?
                Entah mengapa, aku teringat salah satu quotes film kesukaanku. "I think if i love you, i should let you moved on." So, here it is. Aku bakal ngelepas dia, yang memang seharusnya sudah aku lakukan sejak lama.
                Sepasang burung merpati, entah darimana muncul lagi di kantin. Tangan mereka saling bertautan, wajah mereka dipenuhi tawa kebahagiaan. Rasanya terlalu sakit jika terus berada disini. Aku harus pergi.
                "Al, gue pulang duluan ya." Ujarku mengucapkan selamat tinggal pada Alanna sambil berlalu dengan menenteng tas sekolahku.
                Wohoo.. Perjuangan yang akan sangat berat dilalui rupanya.

That should be me
Feelin' your kiss
That should be me
Buyin' you gifts
                Kali ini aku melihat lima tangkai bunga mawar putih diatas mejanya. Bertambah satu setiap bulannya, kupikir satu tangkai melambangkan satu bulan. Momentum-momentum seperti ini biasa terjadi sebulan sekali, tepat tanggal dua puluh enam. Selalu mawar putih.
                Ketika Rhea memasuki ruang kelas, semua orang berubah diam. Ia melangkah menuju mejanya yang letaknya di berbeda satu meja dari mejaku. Wajahnya begitu sumringah sambil menimang bunga tersebut layaknya seorang anak. Bahkan lima bulan bersamaku, ia tidak pernah sebahagia itu.

This is so wrong,
I can't go on,
Till you believe
That should be me
                Tubuhku semakin kupaksa menguat tapi hatiku terus bersikeras melawan otak. Semakin hari, semakin lama aku melihat kebersamaan mereka, semakin banyak juga yang tertahan, semakin banyak juga yang aku ingin keluarkan.
                Entahlah, aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada dipikiranku saat itu. Mengapa aku punya pikiran untuk memutuskan hubungan yang sebenarnya berjalan dengan cukup baik, dengan kesabarannya yang tak pernah putus walaupun aku selalu mencari alasan untuk memutuskannya dulu. Aku benar-benar bodoh karena sudah membuang waktuku untuk mengejar bayangan, padahal sudah memiliki sesuatu yang nyata.

You said you needed a little time
For my mistakes
It's funny how you use that time
To have me replaced
            Bukannya aku tak pernah mencoba untuk kembali, aku sudah melakukannya. Tapi jawaban yang keluar dari bibir mungilnya membuatku terus merutuki diri sendiri. Lagi dan lagi.
            "Aku butuh waktu, Ji."
            Tanpa aku menunggu jawaban darinya pun, aku tahu takkan ada kesempatan lagi untukku kembali berada disampingnya. Sudah sangat besar kesalahanku melepaskannya, lalu mengapa aku memintanya untuk datang lagi?
            Pikiranku kembali pada bayang-bayang saat Dus mengajakku ke Taman Sekolah. Ada sesuatu yang besar katanya. Dan sesuatu itu memang sangat besar, sampai-sampai aku tak sanggup melihatnya lebih lama. Aku berbalik menjauhi kerumunan, tapi aku teringat janjiku sendiri saat bersamanya dulu.
            Jadi aku berbalik, bertahan sekuat mungkin untuk tidak rapuh. Berjalan kearah sepasang burung merpati itu.
            "Hei, kau ingat, aku akan jadi orang pertama yang bakal ngucapin 'selamat' ke kamu saat kamu sukses? I think kamu sekarang sudah mendapatkannya, so.. Congrats babe. Semoga bahagia dengan pacar barunya."
            Dari reaksinya yang terkejut, aku mempertimbangkan bahwa aku memang orang pertama yang mengucapkannya, atau Rhea yang masih mengingat janjiku padanya. Atau malah keduanya. Aku benar-benar berusaha menampakan wajah tidak peduli, berbalik dan pergi lagi.
            Aku benar-benar harus pergi. Tak peduli akan sesakit apa nantinya.

Rhea
But did you think that I wouldn't see you out at the movies
What you doin' to me
You're takin' her where we used to go
Now if you're tryin' to break my heart
It's working 'cause you know that
            Bukan sekali dua kali aku diajak pergi jalan bareng Gavyn. Ia selalu memaksaku untuk pergi bersama, sekedar menghilangkan kejenuhan setelah seminggu sekolah dengan makan malam atau nonton bersama. Padahal aku sudah bilang padanya kami bisa makan atau movie marathon dirumah kami secara bergantian. Dan ia tidak pernah mau jika aku yang membayar, padahal aku akan dengan senang hati membaginya. Keras kepala.
            Seperti malam minggu biasanya, jadwal kami hari ini adalah nonton. Tapi sebelumnya aku bersikeras akan kerumahnya hanya sekedar bertemu sapa dengan kedua orang tua dan kakak perempuannya yang sangat baik padaku. Hitung -hitung pencitraan dimata calon mertua, tidak aku hanya bercanda. Aku memang senang kerumahnya yang selalu dipenuhi hawa hangat dari seluruh penjuru ruangan, masuk kerumahnya sama dengan masuk kerumahku. Jadi yah, aku memang benar-benar sudah nyaman.
            Tapi yang selalu membuatku sebal adalah saat dimana aku disuruh menunggunya yang membeli tiket dan beberapa cemilan. Dan kali ini aku sudah menunggunya sepuluh menit lebih lama. Aku baru saja akan menyusulnya ketika ia sudah ada dibelakangku dengan dua orang yang sangat aku kenal.
            "By! Tadi aku ketemu mereka loh, terus pas aku tanya ternyata mereka mau nonton film yang sama. Jadi aku ajak aja nonton bareng, nggak papa kan?" Tanya Gavyn padaku sambil menunjukkan empat tiket berderet ditangannya.
            Entah ia memang sebodoh itu atau memang sengaja memasukkanku dalam suasana konyol seperti ini. Untungnya aku belum sempat memasang wajah bodohku yang langsung kurubah dengan wajah penuh kegembiraan -palsu.
            "Ya malah bagus dong kalo rame."
            Aku sendiri bahkan tak pernah diajaknya pergi menonton. Tidak bahkan saat aku yang mengajaknya dan ditolak langsung olehnya dengan alasan penghematan. Aku sendiri bahkan tak pernah ditemaninya pergi makan malam. Tidak bahkan saat aku mengajaknya makan malam bersama keluargaku. Tapi apa masalahku? Gavyn sudah memenuhinya sekarang. Aku seharusnya bahagia dengan Gavyn.
            Aku memang bahagia dengan Gavyn. Bahagia saat tidak ada orang itu disamping kami. Saat dia tidak ada disekeliling kami, sehingga aku tak harus terus menerus memikirkannya. Sehingga aku tak harus memikirkan betapa beruntung wanita cantik disebelahnya.
            "Kita bisa dinner bareng sekalian, pasti bakal seru banget!" Seru Gavyn menggebu-gebu saat kami mencapai pintu keluar bioskop. Aku buru-buru mengetikan sederetan kata di layar handphone ku. Dan langsung dibalas secepat kilat yang membuatku lega karena tak harus menunggu berlama-lama.
            "Gavyn, mama kan udah ngajakkin kita makan malam dirumah." Ujarku sambil berusaha memasang wajah mengingatkan. Dia mengerjap, "Yang benar? Kayaknya tadi aku izin sama mama kamu sekalian makan malam deh."
            Ia mulai merangkulku dan mengecup puncak kepalaku. Perlakuannya yang ia tahu selalu bisa membuatku lebih tenang. Kalau sudah seperti ini aku tidak bisa berkeras melawannya.
            Tapi Kenzie yang melakukannya. "Oh, it's okay, dear. Aku sama Alanna juga bakalan langsung pulang kok."
            Argh! Kenapa sih dia terus saja memanggilku dengan sebutan-sebutan itu? Bahkan saat kami bersama dia hanya memanggilku Le atau Ale. Tapi kenapa sekarang.. Aku berani bersumpah pipiku pasti memerah sekarang. Entah untuk marah atau malu. Aku tidak peduli. Sekarang aku benar-benar harus pulang.

I need to know, should I fight for love or disarm
It's getting harder to shield
This pain in my heart
            Aku berteriak sekencang-kencangnya saat aku sampai dikamar kesayanganku. Benar-benar tidak mau tahu dengan keadaan sekitar.
            Bodoh karena setelah semua perjuangan yang ku lakukan akan sia-sia hanya karena kemunculannya. Bodoh karena setelah semua yang sudah aku lewati, masih tidak bisa memungkiri bahwa aku masih punya perasaan padanya.
            Teriakanku mungkin sudah kelewat batas sampai-sampai seseorang mengetuk pintu kamarku. "Sayang, apa Mama boleh masuk?"
            Entah karena aku tidak mau kena marah olehnya atau karena aku memang sedang butuh tempat untuk mencurahkan isi kepala ini, aku membukakannya dan langsung menceritakan masalahku.
            "Nggak papa sayang, Mama juga pernah muda seperti kamu. Walaupun dulu Mama nggak sedramatis kamu.." ia terkekeh pelan, "Kalau dia emang udah jalan sama cewe lain, ya relain aja. Mungkin itu emang udah yang terbaik buat kamu dan dia. Lagian kamu kan udah ada Darell, menurut Mama malah lebih ganteng Darell sih daripada Kenzie. Darell juga lebih sopan dan selalu salam sama Mama, nggak kaya Kenzie yang nunggu diluar aja. Dia kesini juga jarang banget kan? Nggak ada silaturahmi-nya sama sekali."
            Mama menoleh kearahku, "Ups! Maaf sayang, naluri keibu-ibuannya jadi keluar gini hehe. Menurut Mama sih gitu aja, kalian udah punya pasangan masing-masing. Kamu nggak usah nengok ke masa lalu lagi, cukup jalanin yang ada sekarang aja. Pusing kalo liat kebelakang mulu, yang ada nggak tau keadaan yang didepan. Bisa-bisa malah celaka, kan?"
            Untuk apa aku menunggu sesuatu yang tak pasti? Aku benar-benar harus pergi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasanya

Pahit