April Mop

                Dengan bodohnya aku mau mendengarkan curhatan temanku yang satu ini. Ia sedang bercerita tentang perempuan yang berhasil mengambil hatinya selama eh, satu setengah tahun tanpa mengetahui perasaan perempuan itu padanya. Lebih mengejutkannya lagi, perempuan itu juga sempat dekat denganku, sebagai sahabat.
                Kalena Beryl. Memang sih dia nggak secantik yang orang-orang kira, hanya saja dia menarik. Wajahnya membuat laki-laki manapun tidak akan pernah bosan melihatnya, bisa dibilang termasuk aku. Badannya tidak langsing seperti kebanyakan perempuan, bahkan ia termasuk golongan yang bisa dikatakan berisi daripada gemuk.
                "... Ya, jadi gitu. Pas nama dia ada di daftar kelas yang sama kaya kita tahun lalu, dari situ aja gue udah ada feel. Apalagi pas waktu kita malam di bus perpisahan. Gue duduk disamping dia dan rasanya campur aduk banget. Terus pas dia mulai mainin tangan gue, Ya Tuhan! Gue masih bisa ngerasain. Padahal gue udah punya pacar, lo tau kan. Dan disitu ada Ben. Ben Tahar Koeta, Sat! Gue bahkan sampe lupa kalau ada dia."
                Bisa dibilang mereka berdua memang sangat bodoh. Dari jutaan wanita di Indonesia, kenapa harus satu perempuan di hati dua pria bersahabat sekaligus?
                Hebat juga kalau Agler sampai lupa pada Ben, yang benar-benar cinta mati pada Lena. "Roe gimana?"
                Ia berdeham mendengar nama kekasihnya yang kusebut, "Nah itu dia! Setiap kali ada Lena, atau bahkan dia lewat dipikiran gue aja nih, gue jadi lupa sama Roe."
                "So?"
                Agler mengambil minuman pesanannya, "Ya gue putus sama dia."
                Aku tetap menyimaknya sambil menyeruput minuman kemasan yang baru saja kubeli dan mengambil posisi disalah satu meja favorit kami di kantin. "Jadi lo lebih milih Lena?"
                "Milih gue apaan, Sat?" Sebuah suara datang dari arah belakangku bersamaan ketika aku melihat wajah Agler yang tegang. "Ngomongin apaan lo?" Biarpun tak bisa melihat kearah belakangku, aku bisa mengenal suara itu dengan baik. Aku berdiri sambil membawa minumanku. "Yah, baru aja gue duduk, kayaknya bakalan diusir nih gue, atau gue yang ngusir diri sendiri ya? Ah garing. Yaudah gue nguping dari sebelah sana aja. Selamat menjelaskan Agler Zeuron ku sayang."
                "Brengsek."
                Aku terkekeh pelan. Pindah ke meja sebelah yang kebetulan sedang kosong dan duduk membelakangi mereka, berpura-pura tidak mendengar.
                Kejadian itu mengalir begitu saja. Aku ingin menyuruh mereka mengulangnya sekali lagi dan akan kurekam kejadian itu dengan handphone milikku jika aku bisa melakukannya. Kupikir Agler akan canggung dan gugup karena perasaannya, tapi tidak. Ia justru terlihat tenang, dan Lena tetap diam menunggu pria dihadapannya itu selesai bicara.
                "Jadi ya.. Lo tau."

                Jika aku jadi Agler, aku bakal melongo saat mendengar Lena tertawa. "April Mop ya? Duh! Nggak mempan. Daritadi gue udah kena sama anak-anak."

                "Menurut lo gue bercanda? Setelah gue jelasin semuanya panjang lebar, lo pikir gue bercanda? Astaga Lena!"

                "Lo pikir rasa sayang gue ke lo cuma sekedar April Mop?"

                "Gue bahkan nggak pernah mikir buat nyatain perasaan gue ke lo."

                Ada jarak waktu yang cukup lama diantara perbincangan itu. Keduanya sama-sama menunggu satu sama lain untuk berbicara. Kupikir Agler sedang menahan emosinya dan menunggu Lena berbicara, tapi Lena sudah kehabisan kata-kata.
                "Gue sayang sama lo, Len. Terserah lo mau percaya atau lo masih pikir ini April Mop." Ujar Agler, "Sat, ayo pulang. Gue udah nggak ada mood buat mata kuliah yg lain."
                Aku berdiri dengan damai sambil membentuk satu kata dari mulutku tanpa suara, sorry. Tahu bahwa Lena sangat shock sekarang, tapi Agler lebih membutuhkan ku sekarang. Ku samakan langkah kakiku yang sudah ketinggalan lumayan jauh dari Agler.

                "Agler," ku memutuskan untuk meninggalkan mereka, tapi aku masih belum jauh ketika mendengar Lena berkata, "Aku juga sayang kamu."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasanya

Pahit

Spidol Biru