Bodoh

(Based On a Song: Katy Perry - Ghost)

You sent a text
It's like the wind changed your mind
June 5th, 2012.
                Mataku mulai menggelap, kantungnya semakin besar menyerupai mata hitam panda. Bodohnya aku tetap terjaga menunggu kemungkinan besar yang sudah terpampang jelas didepan mata.
                "Kayaknya kita lebih baik temenan aja deh ya,"
                Aku masih tak percaya dengan apa yang kubaca dari layar handphoneku ini. Aku menunggunya lebih dari dua belas jam hanya untuk ini? Kecewa? Ya, pastinya. Memang, sejak awal aku memang sudah antipati pada kemungkinan yang satu ini. Tapi tetap saja kan, mana ada orang yang siap ditinggalkan oleh orang yang disayanginya?
                Semakin lama aku berpikir tentangnya, semakin banyak pula kenangan yang kembali dalam benak-benak pikiranku. Entahlah, terlalu sakit hingga aku tak bisa merasakan apa-apa. Terlalu kecewa hingga tak bisa melampiaskannya dalam tangisan. Rasanya lebih baik menangis daripada terus memendam perasaan bodoh ini sendirian. Lima bulan tanpa perasaan yang terbalaskan? Sungguh sangat mengasyikan. Aku selalu tahu bukan aku yang ada dihatimu, selalu tahu bahwa dia yang akan ditatap olehmu. Tapi tak adakah kesempatan untukku?  

We were best friends
Yeah, we were building our life
                Pikiranku melayang terbang mengambang tepat lima bulan yang lalu. Didalam kelas yang saat itu lumayan ramai, rasanya aku selalu ingin kembali pada saat itu dan mengulangnya lagi jutaan kali.
January 5th, 2012.
                Sikuku yang tajam menyenggol tepat ketulang iganya. "Ji, Alanna tuh!" Tunjukku dengan dagu. Bola matanya berputar, ucapanku kali ini tampaknya membuatnya gerah, terlalu sering mengejeknya mungkin?
                Riko, sahabat karibku sejak kecil malah mencelos, "Ah, dia mah udah nggak suka sama Alanna."
                Aku mengangkat sebelah alisku pada Kenzie, ciri khas yang menandakan aku butuh jawaban lebih lanjut. Tapi Riko kembali menjawabnya, "Dia kan sekarang sukanya sama orang didepannya."
                "Jangan bilang lo suka sama Bela?" Tanyaku mencerca Kenzie. Memang aku menuduhnya bukan tanpa alasan, aku duduk dihadapannya, tempat Bela, teman sekelas kami, duduk dengan damai saat jam pelajaran. Matanya membesar menandakan ketidak setujuan. "Nggak lah, bego. Dia suka sama lo." Penjelasan Riko sama sekali tidak masuk akal. Biarpun aku merasa senang kalaupun itu benar-benar terjadi, tidak mungkin kan seorang Kenzie Mahardika, raja olahraga di sekolah kami menyukai cewe yang sama kerasnya? Paling tidakkan dia suka sama cewe yang lemah lembut serta berwajah mulus.
                "Tapi kayaknya gue emang suka sama lo deh."

With every kiss, and every letter
Every promise of forever, oh
June 5th, 2012.
                Pikiranku kembali melayang pada lima bulan belakangan ini.
                "I love you so much."
                "Aku beneran sayang sama kamu."
                "Semoga kita longlast ya."
                "Kamu dapet pikiran darimana aku nggak sayang sama kamu? Kamu tau aku bener-bener sayang sama kamu."
                "Kangen tau udah sepuluh hari kita nggak bbman, kamu off mulu sih."
                Dan yang paling menyakitkan, "I love you more than anything, Le."

But you hit "Send"
And disappeared in front of my eyes
                Lalu mengapa kau mengirimkan kata-kata itu? Kalau kau merasakan hal yang sama, mengapa kau lakukan itu?

Something has died
Now that I have made up my mind
I'll be alright
It doesn't haunt me at night
                Pikiranku terus melaju berputar mengelilingi lima bulan belakangan ini. Tidak ada yang terlalu bermasalah, tidak ada yang begitu besar sampai harus dihancurkan. Lalu mengapa harus berhenti?
                "Are you alright, babe?" Tanya Myra. Yang selalu perhatian dengan sahabat-sahabatnya sekaligus pacarnya, Riko. Aku mendesah pelan, berharap masalahku ikut berlalu bersama udara yang ikut keluar.
                "Ada sesuatu yang tak ada tapi aku akan baik-baik saja." Ujarku. Melihat tatapan tak enak dari Myra dan Riko, yang ada disebelahnya, aku melanjutkan ucapanku, "aku bener-bener baik-baik aja."
                Riko mendelik makin tajam kearahku, "Oh ayolah, lo kenal gue udah berapa hari sih, Le? Dua, tiga hari? Enggak kan. Kita udah temenan dari bontot. Nggak mungkin gue enggak tau kapan lo sedih."
                Riko tetaplah Riko. Dengan mulut cerewet dan otak sok tahu yang punya mata sejeli harimau yang menerkam mangsa.
                "Mending kita pulang aja. Atau mau makan dulu? Kebetulan dompet gue lagi penuh dan Myra dijemput abangnya hari ini, jadi dompet gue nggak langsung abis karena traktir dua cewe rakus sekaligus. Gue udah lama nih ngidam Black Coffee-nya Kedai Kopi Kang Komar." Lanjutnya. Sebetulnya sih aku bakal menerimanya, mengingat tidak ada yang menjemputku hari ini. Tidak ada kan yang mau menjemput mantan kekasihnya ketika sudah putus?
                "Heh! Kalo dompet lo emang tebel, harusnya lo traktir di Starbucks kek, atau di Cafe yang bagusan dikit kali. Kedai Kopi segala, bilang aja Warung Kopi, orang harganya seribu segelas aja. Mana apatuh tadi lo bilangnya? Black Coffee? Halah! Adanya mah Kopi Item." Cemoohku malah disambut senyuman oleh kedua orang aneh didepanku ini. Apa aku terlihat seperti sedang memuji mereka?
                "Nah, gini dong, balik lagi bawelnya." Ujar Myra sambil mencubit pipiku yang sebenarnya tirus. Lalu ia mengalihkan cubitannya dari pipiku menuju pipi Riko yang tidak kalah tirus, "Tapi ya, yang ada tuh kamu harusnya traktir cewenya dulu. Mentang-mentang aku dijemput gitu?"
                Tawaku meledak melihat raut muka Riko yang berubah. Lalu aku menyadari sesuatu, tanpa Kenzie, takkan ada yang berubah. Tak seharusnya berubah, aku masih punya Riko, Myra, dan keluargaku.

Cause every gift, and every letter,
Every promise of forever
Now, it's out of sight
Like you were never alive
                Kuikat rambut cokelatku saat memasuki pekarangan Cafe disamping sekolah kami. Kupikir Riko benar-benar mau mentraktirku di Warung Kopinya Kang Komar, tapi ia justru malah membawaku kesini. Kalau ia benar-benar membawaku ketempat yang lebih bagus karena acara galau-ku, mungkin lebih baik aku galau setiap waktu.
                Riko berbalik menghadapku, sehingga aku hanya bisa menatap leher hitam yang jenjang itu. Mirip sekali dengan leher jerapah kalau tiba-tiba ia diserang penyakit panu. "Lo mau apa?"
                Mataku berputar, keadaan diluar cukup dingin sampai aku harus memakai sweater minty cool kesayanganku padahal ini sudah bulan Juni yang seharusnya panas. "Juni dingin yang aneh. Hot Chocolate aja deh,"
                Riko terkekeh membuat hidungnya yang besar kembang kempis, oh ayolah. Dia tidak benar-benar sejelek yang kudeskripsikan, hanya saja, ehm.. dia memang benar-benar sangat jelek. "Lo tau nggak? Yang ngerasa dingin disini cuma lo. Udara hari ini bener-bener bikin gue gerah."
                Aku menatap kakinya yang melangkah untuk memesan minuman. Lalu ku edarkan pandanganku ke sepenjuru ruangan. Mencari kepastian apakah benar bahwa udara memang sedang berhembus panas? Atau perkiraan Riko yang salah? Yang justru membuatku sebal karena Riko memang benar. Tidak ada satupun orang disini yang memakai sweater tebal seperti aku. Malahan beberapa dari mereka memakai kaus tak berlengan ataupun celana pendek. Tatapanku terhenti pada meja disudut ruangan. Dimana terdapat seorang laki-laki dengan rambut yang tak pernah ditata rapih, selalu cuek dengan pilihan bajunya, dengan senyum yang selalu membuatku meleleh setiap waktunya.

Kenzie Mahardika.

                Dengan perempuan cantik disampingnya, Alanna Zahran.

                Dan sekarang, cowo itu tepat menatapku. Tatapannya setajam elang dan tak pernah bisa menyadarkanku kembali pada kenyataan. Bulu kudukku kembali berdiri, kejadian yang selalu sama setiap kali aku melihat tepat dimatanya. Rasanya saat ini aku ingin lari sejauh-jauhnya, bukan ingin, tapi harus. Untungnya Riko datang tepat waktu, dengan membawa dua gelas ditangannya. "Mau pulang langsung, Le?" Tanya Riko yang ingin kujawab langsung dengan anggukan.

                "Aku nggak mungkin suka sama dia, Le. Alanna cuma masa lalu aku. Kamu yang ada didepan aku sekarang. Masa depan aku."

                "Kamu itu cewe paling kuat yang pernah aku liat. Itu salah satu dari jutaan alasan kenapa aku sayang banget sama kamu."

                "Jangan sedih terus dong. Aku janji, aku yang bakal ada disamping kamu kalo kamu sedih nanti. Aku yang bakal jadi orang pertama buat ucapin 'selamat' untuk kamu ketika kamu sukses. Aku yang bakal ngulurin tangan pertama kali ketika kamu jatuh nanti."

                Bukankah seharusnya aku buktiin kalau aku emang seperti apa yang dia pernah bilang? Buat saja ini lebih gampang, anggap dia tidak pernah ada dalam kehidupanku, benarkan? "Enggak, Ko. Kita tetep disini." Jawabku sambil tetap menatap balik mata elang itu lalu melambaikan tangan kearahnya.
                Gimana rasanya, satu meja sama mantan yang lagi jalan sama cewe lain? Oh, ingat satu hal, kami baru putus sekitar ehm.. Lima atau enam jam yang lalu. Hebat bukan?
                Secara tidak sengaja aku sudah merobekki kuku-kuku jari tanganku sampai habis. Khas-ku kalau sedang grogi. Riko yang melihat kebiasaan burukku itu buru-buru mengambil tangan kananku, "Kita harus pulang, Rhea."
                Entahlah, aku bahkan bisa menghitung Riko memanggilku dengan nama asli dalam hitungan jari pertahun. Dan kalau ia melakukannya, itu berarti aku sudah membuatnya kesal ataupun marah. Dan juga, ia tahu aku tak pernah bisa membantahnya ketika marah. Tapi sesuatu dalam diriku ingin membantahnya kali ini, lebih keras dari ketakutanku dalam menghadapi sisinya yang keras.
                "Jangan. Aku mau disini dulu, Ko."

And now youre just a ghost
When I look back never would have known that
January 7th, 2013.
                Nggak seberat apa yang aku kira. Rasanya sangat menyenangkan melewatinya, tujuh bulan bukan waktu yang lama, bukan?

You could be so cold
Like a stranger vanish like a vapor
                Bulu kudukku berdiri. Entahlah sudah berapa kali kejadian ini terjadi selama beberapa bulan belakangan ini. Merasa seperti ada yang mengikutiku, tapi begitu berbalik tak ada seorangpun dibelakangku, atau tak ada yang benar-benar memperhatikanku.
                Aku berbalik lagi sambil membawa beberapa buku perpustakaan yang dipesan oleh Pak Dino, guru biologiku, untuk materi kelas. Bodohnya, aku merasa seperti ada dalam sinetron, diikuti saat aku membawa buku-buku yang jumlahnya sangat mengesankan.
                Tiba-tiba saja pikiran aku sedang dalam sebuah sinetron makin menambah nyata ketika orang itu dengan anehnya menubrukku. Pure sinetron. Kalau saja ini benar ada di sinetron, aku akan langsung mengganti channelnya.
                Uhh, tidak. Mungkin aku akan mengurungkan niatku mengganti channelnya ketika pemeran pria yang di idam-idamkan dalam sinetron muncul. Tentu saja ia tak sebodoh itu muncul untuk menabrakku.
                Bulu kudukku kembali berdiri melihat tatapannya yang tepat kembali menuju kedua manik mataku. Ia berjalan melewatiku. Entahlah, aku seperti pernah merasakannya juga. Tapi kapan? Kenzie bahkan tak pernah bicara denganku setelah minum kopi di cafe itu.
                ...Gue nggak sengaja, betulan." Ujar Darell, atau lengkapnya Gavyn Darell. Cowo bule yang nggak pernah mau dipanggil dengan nama depannya. Cowo yang bisa masuk tim inti basket dengan tampangnya, biarpun kemampuannya tidak seberapa, selalu ada yang harus membuat penonton bersemangat kan? "Gue bawain ya?" Pintanya.
                Seorang Kenziepun tak pernah menawarkannya. Ia hanya berjalan disampingku, menyamakan langkahku yang lebih lambat dari biasanya sambil berbicara tentang tim sepakbolanya.
                Dengan serta merta aku mengangguk menerimanya. Entahlah, mungkin aku tak bisa jauh-jauh dari seorang atlet?

There's just an echo where your heart used to be
Now I see it clearly
March 19th, 2013.
                Riko berlari tergopoh-gopoh dari ujung ruangan. Menurut informasi yang kuterima lewat pesawat kertas yang dikirimnya tadi pagi ke mejaku, ia akan memberi tahuku sesuatu tentang.. Kenzie. Ia sudah bersimbah keringat dan langsung mengambil air mineral yang ada dihadapanku. "Hei! Enak banget ya langsung ambil-ambil." Protesku sambil mengambil lagi minumanku dari tangannya.
                "Itu cuma aqua," matanya mendelik. "Nggak ada penting-pentingnya dibanding informasi yang gue terima."
                Biarpun dia cowo, jiwa menggosipnya tidak ada bedanya dengan yang cewe-cewe biasa lakukan. Kali ini aku membiarkannya mengambil air mineral dari tanganku. Dan tanpa segan-segan ia menyemburkanku dengan ceritanya yang benar-benar membuatku tersentak hebat.
                "Jadi gue kemaren ngobrol sama Dus, lo tau kan, sahabatnya Kenzie dari dulu. Okay, biarpun Kenzie dulu sahabat kita, dia juga punya sahabat lain kan? Nah, menurut Dus, sebelum jadian sama lu, Kenzie emang suka banget sama Alanna. Tapi dia ngeliat lo yang kayaknya suka banget sama dia..." Ujarnya. Lalu ia melanjutkan sambil menatapku menyeringai, "Tapi emang bener kok lo suka banget sama dia."
                Memang benar. Aku suka banget sama dia. Kupukul bahu kirinya dengan separuh tenaga mirip sebuah colekan. "Terus?"
                Ia terkekeh, "...karena takut lo bakal kecewa, akhirnya dia nembak lo. Tapi pas udah agak lama kalian bareng, Alanna dateng lagi ngasih harapan gitu ke Kenzie. Dan dengan begonya, dia suka lagi sama Alanna. Jadilah dia mutusin lo dan sekarang dia ngedeketin Alanna. Tapi dia kaya dimainin doang sama Alanna. Menurut Dus, dia nyesel udah ninggalin lo. Untuk sayang atau enggaknya Dus juga nggak ngerti. Tapi semoga aja dia sayang sama lo atau bahkan cinta mati sekalian sama lo. Lumayankan balas dendam padahal nggak kepikiran sama sekali?"
                Lalu gadis berdagu panjang itu datang kearah mejaku dari belakang Riko. "Apaan, Ko? Kamu cinta mati sama aku?" Tanyanya seakan meledek Riko.
                Jadilah aku cuma nyamuk terbang diantara mereka didetik berikutnya. Tapi setidaknya aku tahu yang sebenarnya. Tidak sesakit yang kubayangkan, karena sudah melepasnya mungkin? Dan aku tak akan pernah memberinya harapan lagi. Aku tersenyum penuh kemenangan, tahu bagaimana cerita ini akan berakhir.
                "Holy sh.. Muka lo serem banget! Jangan senyum kaya gitu." Ujar Myra sambil melemparku sendok dan sedotan yang ada diatas meja kantin yang kami dudukki saat ini.
                Setidaknya aku tidak membayangkan ada adegan ini.

And there's just a pillow where your head used to sleep
My vision's 20/20
Augustus 26th, 2013
                Gavyn emang nggak ada duanya untuk masalah seperti ini. Mungkin memang cita-citanya adalah penulis naskah sinetron. Terbukti karena kini aku sudah dipenuhi panah-panah yang harus ku ikuti persis seperti yang disuruhnya, sama kan dengan sinetron norak jaman sekarang?
                Aku mengambil selembar kertas yang ditempel di dinding olehnya. Berputarlah. Tapi ketika aku berputar, yang kudapati malah kantung kain hitam yang menutupi wajahku. Sinetron macam apa ini?
                Mendapati diriku tengah digotong menuruni tangga sangat tidak enak. Isi perutku seakan mengocok berlomba keluar. "Ini siapa sih? Atau gue teriak nih!" Teriakku.
                Seseorang, laki-laki kurasa, terkekeh. "Sejujurnya lo udah teriak, Le." Ujarnya. Riko? Ngapain coba dia pake gotong-gotong aku gini? Saat aku ingin mengajukan pertanyaan, jalan yang dilalui Riko sudah rata, sangat berbeda dengan saat kami melewati tangga tadi.
                Suara-suara rendah terdengar dari kiri-kananku. Aku diturunkan dengan sangat amat tidak sinetron oleh Riko, yang langsung disambut dengan tangan membantuku berdiri. Sangat tidak keren mengingat kepalaku masih ditutup kantung kain aneh ini.
                Lalu seseorang, yang kuyakin seratus persen bukan Riko, membuka kain itu dengan sangat amat hati-hati. Aku mengerjapkan mata beberapa kali menyesuaikan dengan cahaya sekelilingku. Dan mengerjapkan beberapa kali lagi karena tidak percaya.
                Pemandangan ini benar-benar sangat sama dengan sinetron. Taman sekolah yang tandus berubah jadi berbunga begini? Mengapa aku tidak melihatnya sama sekali daritadi? Dihiasi taburan lampu yang anehnya sangat indah walaupun di siang hari. Ini benar-benar sangat sinetron. Dan aku yakin, dibalik semua ini ada..
                "Kamu suka nggak?" Gavyn, ehm.. Maksudku Darell. Uhh, siapa yang peduli memanggil namanya Gavyn ataupun Darell dalam hati? "Aku bikin sendiri loh!" Serunya yang langsung disambut dengan gumaman dan batuk disengaja dari banyak orang. Tunggu, banyak orang?
                "Well, konsepnya aku bikin sendiri. Tapi yang lain cukup bantu-bantu sedikit saat pengerjaannya." Ralatnya sambil menyeringai. Kalau saja Riko yang disini, mungkin aku akan langsung pergi sambil menjerit ketakutan melihat seringaiannya, tapi Darell, ia malah sangat manis jika ia terus menyeringai seperti ini.
                "So, aku bener-bener bukan cowo romantis walaupun aku campuran France. Rhea, kamu mau nggak jadi pacar aku?" Tanya Darell sambil menaikkan sebelah alisnya. Lebih mirip ingin mengajak aku ke ring tinju dari pada berpacaran. Anehnya ia masih saja terlihat tampan walaupun se mengesalkan ini.
                "Nggak ada kata-kata sayang?" Tanyaku balik. Aku mulai terkekeh melihatnya sedikit gelagapan. "Kamu mau kata-kata sayang? Perasaan aku ke kamu tuh nggak bisa diungkapin cuma dengan kata sayang atau cinta, Rhea. Ini lebih dari itu."
                Padahal sebenarnya, tanpa kata-kata itupun aku sudah melayang dengan perbuatan dan pengorbanannya hanya demi menyatakan cinta padaku.
                Lalu ia mengeluarkan sebuket bunga dengan dua puluh lima bunga mawar putih asli dan satu mawar merah palsu yang ditaruh ditengahnya. Dua puluh enam. Bodohnya, aku menghitung bunganya dulu. Tanggal hari ini. "I love you till the last rose died." Oh, My God. Ini benar-benar sinetron banget. Aku ternganga saking terkejutnya. Lalu menerima bunga-bunga itu ditanganku. Indah. "Maaf ya, aku nemu kata-kata itu di film yang aku suka." Gumamannya bergema ditelingaku membuatku terkekeh pelan.
                Ku edarkan pandanganku pada sekeliling, ada Riko yang terus mengangguk saking cepatnya, kepalanya terlihat hampir copot. Ada Myra yang terus meremas rok abu-abu yang dikenakannya, ada tim basket alias teman-teman Gavyn, bahkan ada anak-anak cheers yang mungkin sehabis latihan karena masih berkeringat dan membawa pom-pomnya, ada Dus yang memperhatikanku dari atas hingga kebawah yang membuatku makin canggung saat ini, ada Alanna si cewe cantik dan juga Kenzie disebelahnya. Ia menatapku tepat dimanik mata untuk kesekian kalinya. Membuat bulu kudukku berdiri, hawa disekitarku terasa dingin. Ku raba tengkukku berusaha melenyapkan hawa dingin tersebut. Sudah lebih dari satu tahun aku mencobanya. Sudah lebih dari satu tahun aku berhasil menghilangkannya.
                Aku beralih dari tatapan Kenzie yang sudah bisa aku taklukan kali ini. Menatap manik mata biru koral yang indah milik Gavyn dan mengangguk mengiyakan. Sorakkan Riko mengalahkan suara penggemar Gavyn saat lomba basket disekolah dulu. Melihat Gavyn tersenyum, akupun ikut tersenyum lalu memeluknya. Perempuan yang lebih dulu? Masa bodoh. Aku sayang dia.
                Lalu aku melihatnya dari balik punggung Gavyn. Berjalan menjauhi keramaian yang baru aku dan Gavyn buat. Balas dendam? Tidak. Aku benar-benar menyayangi Gavyn.
                "Gavyn.." Aku menutup mulutku dengan kedua tangan, salah ucap. "Maksudku, Darell."
                "Nggak papa Rhea, kamu boleh panggil aku dengan nama itu. Itu memang ku khususkan untukmu." Ujarnya. Sebenarnya aku tak mengerti apa maksudnya. Tapi siapa peduli? Gavyn membolehkanku memanggilnya dengan nama depannya. Hebat bukan?
                Sebuah suara dalam masa lalu kembali membayangiku,

                "Aku berjanji, tidak akan pernah meninggalkanmu, Rhea."

                Dan suara itu pula yang membangunkanku. "Berjanjilah padaku kau tidak akan meninggalkanku." Pintaku yang lebih seperti lirihan anak kecil yang tidak ingin kehilangan mainannya.
                Lalu ia memelukku lagi, membuatku bisa melihat seseorang yang tadinya pergi datang kembali. Kenzie, entah untuk apa, ia datang kearahku. Menatapku lagi sehingga membuatku gugup kembali. Ku pejamkan mataku sambil menghirup bau parfum khas Gavyn yang kuingin hirup selamanya. "Aku nggak bisa janjiin yang satu itu, Le. Tapi aku akan mengusahakannya." Baru kali ini, semasa hidupku, aku tak pernah merasa seaman ini.
                Mata elang itu kini ada dibelakangku, aku bisa merasakannya. Aku berbalik melepaskan pelukanku. "Hei, kau ingat, aku akan jadi orang pertama yang ucapin 'selamat' ke kamu saat kamu sukses? I think kamu sekarang sudah diatas, so.. Congrats babe. Semoga bahagia dengan pacar barunya." Ucapnya singkat. Tentu saja aku mengingatnya. Aku juga ingat jutaan janji yang sudah ia berikan.
                Lalu ia melangkah berlalu. Air mukanya menandakan kekecewaan. Aku menang. Kubalik lagi tubuhku dan mencium pipi kiri Gavyn. "Aku sayang kamu."



I see you through now.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasanya

Pahit