Postingan

Beda

"Eh, udah jam segini. Kita langsung kesana aja, nanti kamu telat, loh." ujar sang pria sambil bangkit dari tempat duduknya di kantin siang itu. Tangannya meraih sampah plastik bekas minuman mereka. Sang wanita melirik kearah jamnya, kemudian bangkit dan menepuk-nepuk pelan celananya. "Kamu disini aja, aku bisa kesana sendiri, kok." ujarnya. Namun justru sang pria menggeleng, "Nggak papa, aku kan sekalian ke ruang KMK. Ada rapat dadakan gitu. Maklum lah, lagi sibuk-sibuknya. Sebentar lagi ada acara retret, jadi anggota-anggota lama sibuk." ujarnya sambil membuang sampah ke tempatnya, kemudian menyamakan langkahnya dengan gadis itu. "Oh iya, berarti aku agak sore ya. Kamu nggak masalah kan, agak lama?" tanya pria tersebut. "Iya, nggak papa, kok." ujar gadis itu sambil tersenyum. "Lagian kan setelah ini aku ada kelas pengganti. Nanti kalo udah selesai, telepon aku aja." Sang pria mengangguk mengiyakan. Mereka berjalan dalam diam, kem…

Spidol Biru

Aku duduk di bangku semen di ujung lapangan sambil tetap memegang spidol berwarna biru. Menunggu teman-temanku menghampiri dan memintaku menandatangani baju seragam putih mereka yang biasanya dikenakan dengan rapi setiap hari Senin. Bajuku sendiri sudah jauh dari kata bersih, penuh dengan tanda tangan, dan cat semprot dengan tulisan nama sekolah dan tahun kelulusanku. Namun tetap saja, aku menyisakan satu spot kecil di paling bawah bagian depan bajuku. Bahkan hanya dengan melihat teman-temanku setelah tiga tahun bersama, aku merasa tenang. Mataku terus memindai lapangan, menunggu seseorang, atau bahkan bisa kusebut dengan sahabatku datang. Aku sangat paham, biarpun jarum jam Danar bergerak sama dengan irama jam tanganku, tetap saja pria itu tidak pernah datang tepat waktu. Tidak ketika kami masih belajar di kelas. Walaupun rumahnya jauh lebih dekat daripada jarak rumahku dengan sekolah, tetap saja pria itu datang ke sekolah paling cepat sepuluh menit setelah bel masuk berbunyi. Menyebab…

Pahit

Gadis itu diam-diam menangis dalam hati. Gadis itu sangat memahami bagaimana sosoknya dalam sudut pandangmu. Namun yang terjadi justru kamu tidak pernah dapat memahami dirinya. Justru kamulah yang tidak mengerti perasaannya. Meninggalkannya sendirian dalam diam.

Rasanya

RASANYA ingin kembali lagi ke malam itu. Dimana aku bisa terus menatapmu dalam gelap, menyentuh setiap lekuk wajahmu, dan memelukmu hingga mentari kembali meninggi. Aku tidak pernah berpikir bahwa akhirnya akan jadi seperti ini. Menunggumu muncul di layar ponselku. Memang sih, salahku terlalu berharap pada orang sepertimu. Yang pergi secepat datangnya, sehingga tak ada seorangpun yang akan siap ketika kamu berpaling. Bukan, bahkan aku tak tahu apa kata yang pas dalam kalimat itu, karena kenapa harus ku gunakan kata berpaling, ketika kamu bahkan bukan milik ku? Tidak ketika kamu menoleh kebelakang dan berpindah tempat duduk ketika perjalanan pulang. Tidak ketika kamu bersandar pada pundakku sehingga aku dapat memainkan helai rambut halusmu. Tidak ketika aku menatap mata hitammu. Tidak, kamu bukan milikku, bahkan tak pernah terucap satu kata suka dari bibirmu. Aku bodoh kala itu. Karena membalasmu ketika pertama kali kamu muncul di layar ponselku. Rasanya ingin kembali ke waktu itu, da…

Bukankah

Gadis itu mengangkat telepon setelah tiga percobaan sebelumnya. Malam itu pukul 21.04, suara gadis itu bahkan terdengar parau. Bukankah seharusnya pria itu tahu, bahwa gadis itu selalu tertidur cepat? Ia melangkah keluar kelas ketika gadis itu duduk sendirian di bangku depan kelasnya. Dengan rambut panjangnya yang terurai dan earphone terpasang ditelinganya. Menikmati kesendirian sambil memandang kearah lapangan. Kemudian pria itu menghampiri, namun justru si gadis tidak menunjukkan senyumnya. Bukankah seharusnya pria itu tahu, bahwa gadis itu tidak lagi tertarik padanya? Tapi justru si pria semakin menjadi. Bermain gitar duduk di bangku ketika jam istirahat, dengan sang gadis yang duduk-duduk dibawah sambil bercengkrama dengan ketiga temannya. Jari-jari pria itu memetik senar sambil menyenandungkan lagu kesukaannya. Tapi yang ada justru gadis itu berdiri dan melangkah pergi. Bukankah seharusnya pria itu tahu, bahwa gadis itu tidak ingin jatuh kembali?

[Words Count : 136]

Menarik Ketika Seseorang Jatuh Karena Sebuah Kerikil

Menarik ketika seseorang jatuh karena sebuah kerikil.
Kemudian tertarik pada batu hitam dan kecil di pinggir jalan itu.

Tak akan ada yang mengerti.
Tak ada satupun yang akan paham pada ketertarikannya terhadap kerikil kecil itu.

Jadi ia simpan kerikil kecil itu sendiri.
Tak ada yang tahu, sehingga tak akan ada yang menertawakan obsesinya pada si kerikil.

Pelangi

Gadis itu yakin bahwa pria yang ada dihadapannya menderita penyakit buta warna. Bagaimana tidak, gadis itu sudah menunjukkan seluruh warna dalam hidupnya. Ia yakin ia penuh dengan keindahan, seperti pelangi yang hadir setelah hujan reda. Gadis itu menatap langit setiap malam. Hanya delapan persen dari seluruh pria penduduk bumi, dengan perbandingan satu dari tiga puluh tiga ribu jiwa yang mengalami hal ini, kenapa harus dia?